TANGGAMUS, Zonapos.co.id— Sebuah “bom waktu” berbentuk talud pantai kini menghantui warga Pekon Tegineneng, Kecamatan Limau. Proyek bernilai fantastis yang ditengarai milik seorang oknum anggota dewan setempat ini berdiri dengan konstruksi “sampah”: berbahan pasir laut dan minim batu split. Di tengah aroma busuk pengerjaan yang lari jauh dari bestek, Dinas Perikanan Tanggamus justru mempertontonkan aksi “sakit mata” berjemaah dengan membiarkan kegagalan struktur ini lolos dari meja pengawasan. Rabu (25/02/2026)
Beton Berbalut Garam: Resep Bencana Pesisir
Di tepian pantai Tegineneng, debur ombak seharusnya menjadi simfoni alam yang menenangkan. Namun kini, suara itu berubah menjadi lonceng peringatan yang mencemaskan. Sebuah proyek talud dan bronjong yang digadang-gadang sebagai perisai dari ganasnya abrasi, justru berdiri lunglai—menampakkan wajah aslinya yang keropos sebelum benar-benar diuji oleh waktu.
Fakta di lapangan mengungkap tabir gelap di balik adukan semen yang rapuh. Material utama yang digunakan bukanlah pasir urug standar konstruksi, melainkan pasir laut yang diambil langsung dari bibir pantai. Secara teknis, kandungan klorida dalam pasir laut akan menggerogoti ketahanan material, menjadikan struktur ini sebagai pajangan yang menunggu roboh.
Potret Kerapuhan di Depan Mata
Secara teknis, struktur di lapangan lebih menyerupai tumpukan batu liar daripada sebuah konstruksi rekayasa sipil. Fondasi yang menggantung (undermining) terlihat jelas; beton penahan tampak seolah “melayang” tanpa tumpuan solid, menjadikannya mangsa empuk bagi erosi air laut.
Kawat bronjong yang digunakan pun tampak kurus dan ringkih, dengan anyaman longgar yang mengunci batu-batu berukuran tidak seragam. Ini bukan lagi soal efisiensi material, melainkan indikasi kuat pengerjaan yang “asal jadi” demi meraup sisa lebih keuntungan dari anggaran yang seharusnya milik rakyat.
Kesaksian Pahit: “Batu Split Cuma Satu Mobil”
Dugaan pengerjaan serampangan ini diperkuat oleh pengakuan seorang narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
”Kalau talud itu, material pasirnya pakai pasir laut. Batu splitnya cuma satu mobil saja,” papar narasumber tersebut dengan nada getir. Selasa (24/02/2026)
Penggunaan batu split yang hanya sebatas formalitas satu armada ini menjadi bukti sahih bahwa kekuatan struktur bukanlah prioritas sang pelaksana. Fokus utamanya diduga kuat adalah bagaimana kantong pribadi terisi, sementara keselamatan warga pesisir hanya menjadi urusan nomor sekian.
Simbiosis Menjijikkan: Oknum Dewan dan Pengawas yang Buta
Aroma korupsi berjemaah kian menyengat saat menelusuri siapa sosok di balik layar. Narasumber kami memberikan petunjuk yang benderang mengenai siapa penguasa pekerjaan ini.
”Pekerjaan talud itu punya anggota dewan,” jelasnya singkat namun sarat makna.
Jika benar pelaksana pekerjaan ini adalah seorang oknum wakil rakyat, maka kita sedang menyaksikan sebuah pengkhianatan yang sempurna. Seseorang yang dipilih untuk mengawasi anggaran, justru diduga menjadi pemain utama yang menggerogoti hak rakyatnya sendiri dengan material “gratisan” dari pantai.
Pertanyaan besar kini tertuju pada Dinas Perikanan Kabupaten Tanggamus. Bagaimana mungkin penggunaan pasir laut yang kasat mata dan struktur undermining yang mencolok bisa lolos dari pantauan? Apakah mereka benar-benar tertidur pulas, atau sengaja menutup mata demi menjaga “harmoni” politik dengan sang oknum dewan?
Menunggu Janji atau Menunggu Roboh?
Konstruksi ini bukan perisai, melainkan monumen keserakahan. Ketika talud ini nantinya roboh diterjang ombak—yang tampaknya hanya tinggal menunggu waktu—siapa yang akan pasang badan? Apakah sang oknum dewan akan hadir kembali dengan retorika indahnya, atau justru menghilang di balik dinding kekebalan politiknya?
Rakyat Tegineneng tidak butuh puisi janji; mereka butuh benteng yang kokoh, bukan tumpukan batu yang dibangun di atas pondasi kebohongan dan pasir laut yang korosif. (Hanafi)































