JAKARTA, Zonapos.co.id– Di bawah naungan langit malam Senin (11/1), sekat-sekat geografis yang memisahkan ribuan pulau di Nusantara seolah lebur dalam ruang virtual. Keluarga besar Asosiasi Wartawan Internasional Nusantara (ASWIN) menyalakan lentera konsolidasi melalui Temu Zoom Nasional, sebuah simfoni komunikasi yang menyatukan detak jantung organisasi dari ujung barat Aceh hingga ufuk timur Papua.
Pertemuan yang berlangsung khidmat selama tiga jam (19.30–22.30 WIB) ini bukan sekadar seremoni digital. Ia adalah upaya memahat kembali fondasi organisasi agar semakin kokoh di tengah badai disrupsi informasi.
Menjaga Marwah, Merawat Etika
Sekretaris DPP ASWIN, Fransiskus P. Liwun, S.Sos., S.Pd., membuka tirai pertemuan dengan narasi yang menggugah. Ia menegaskan bahwa kekuatan ASWIN terletak pada sehatnya aliran komunikasi dan kesamaan langkah antara pusat dan daerah.
Selaras dengan itu, Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM, membawakan materi yang menjadi ruh bagi setiap jurnalis:
“Penerapan Kebebasan Jurnalis dalam Posisi dan Tanggung Jawab Profesional”.
Dalam paparannya yang bernas, ia mengingatkan bahwa pena jurnalis adalah pedang bermata dua. Kebebasan pers adalah napas demokrasi, namun tanpa etika dan tanggung jawab, ia akan kehilangan kemuliaannya.
“Marwah jurnalis harus dijaga dengan integritas yang tak boleh ditawar,” ungkapnya di hadapan para pengurus DPD dan DPC se-Indonesia.
Identitas yang Bermartabat
Diskusi mengalir lebih dalam saat membahas arah kebijakan organisasi. Kartu Tanda Anggota (KTA) bukan lagi sekadar kepingan identitas fisik, melainkan simbol komitmen dan kualitas. ASWIN bertekad bahwa setiap pemegang KTA adalah pribadi yang telah teruji melalui proses Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) jurnalistik yang terukur.
Melalui program Diklat tingkat dasar yang akan disemai di setiap DPD, ASWIN berupaya mencetak jurnalis yang memiliki standar kompetensi tunggal, namun tetap menghargai kearifan lokal daerah masing-masing.
Visi Sang Nakhoda
Puncak acara ditandai dengan arahan strategis dari Ketua Umum ASWIN, Irno Budi Kiswoyo, SE., MH. Dengan nada yang tenang namun penuh penegasan, ia memetakan arah masa depan organisasi. Baginya, ASWIN bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan kawah candradimuka bagi peningkatan sumber daya manusia.
”Integritas adalah harga mati. Kita membangun organisasi ini dengan semangat pembinaan berkelanjutan,” tutur Irno. Ia menekankan bahwa profesionalisme jurnalis harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter organisasi.
Simfoni Persatuan di Penghujung Malam
Suasana yang semula formal berubah menjadi hangat dan penuh kekeluargaan saat sesi pengenalan pengurus DPD dan DPC berlangsung. Satu per satu wajah muncul di layar, mewakili semangat daerahnya, menciptakan mozaik kebersamaan yang memukau. Sesi tanya jawab menjadi panggung bagi dialektika yang cerdas, sekaligus ruang untuk saling merangkul dalam doa.
Tepat pukul 22.30 WIB, pertemuan ditutup dengan harapan yang membumbung tinggi. Sebuah doa dipanjatkan agar ASWIN tidak hanya menjadi organisasi yang solid secara struktural, tetapi juga menjadi cahaya yang memberikan kontribusi positif bagi peradaban pers di Indonesia.
Pewarta : Hanafi































