PRINGSEWU, Zonapos.co.id– Jarum jam menunjukkan angka yang tenang saat Aula RSUD Kabupaten Pringsewu bertransformasi menjadi ruang penuh harapan pada Senin pagi (12/1/2026). Di sana, dalam sebuah pertemuan yang kental dengan nuansa pengabdian, Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas melangkah untuk menunaikan sebuah tugas mulia: menyerahkan amanah pengawasan demi masa depan kesehatan Bumi Jejama Secancanan.
Momentum Penyerahan Amanah
Suasana khidmat menyelimuti ruangan saat Surat Keputusan (SK) Dewan Pengawas RSUD berpindah tangan. Penyerahan ini bukan sekadar prosesi birokrasi yang kaku, melainkan sebuah simfoni komitmen yang disaksikan oleh jajaran elite pemerintahan daerah. Lembar-lembar SK tersebut kini menjadi jangkar bagi sosok-sosok pilihan—Kepala Dinas Kesehatan Ali Subagiyo, Kepala BPKAD Olpin Putra, dan Seprianto—untuk menakhodai fungsi pengawasan rumah sakit ke arah yang lebih gemilang.
Dalam balutan audiensi yang hangat, kehadiran Wakil Bupati Umi Laila dan Sekretaris Daerah Ir. M. Andi Purwanto seolah menambah bobot kewibawaan acara tersebut. Para asisten, staf ahli, hingga kepala OPD hadir membentuk barisan saksi atas lahirnya era baru manajemen rumah sakit yang lebih solid dan kuat.
Orasi Visi: Antara Fungsi dan Estetika
Di podium, Bupati Riyanto tidak hanya memberikan instruksi, melainkan merajut sebuah visi. Suaranya bergema lembut namun penuh penekanan saat ia menguraikan “Mimpi Pringsewu”.
”Rumah sakit ini harus menjadi tempat di mana fungsi bertemu dengan estetika, di mana dinding-dindingnya tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga ramah bagi mereka yang terbatas secara fisik,” tuturnya penuh makna.
Ia menegaskan bahwa setiap sudut RSUD harus menjadi cermin dari keramahan disabilitas dan keanggunan pelayanan. Baginya, Dewan Pengawas adalah penjaga nyala api mimpi tersebut, yang harus terus berdenyut dalam nadi koordinasi bersama Direktur RSUD dr. Herman Syahrial dan seluruh jajaran direksi.
Penutup yang Menyentuh
Seremoni ini diakhiri dengan sebuah pemahaman kolektif bahwa RSUD Pringsewu sedang bersiap untuk terbang lebih tinggi. Tidak ada sekat antara pimpinan dan pelaksana; yang ada hanyalah satu barisan untuk mewujudkan pelayanan prima yang diimpikan oleh setiap warga di pelosok kabupaten.
Ketika audiensi berakhir dan jabat tangan erat bertukar, sebuah pesan tersirat jelas: Bahwa di Pringsewu, pelayanan kesehatan bukan hanya soal mengobati luka, tetapi tentang merawat martabat manusia dengan cara yang paling indah dan profesional.
Pewarta : Hanafi































