BONDOWOSO, Zonapos.co.id — Setelah lebih dari satu bulan menjalankan program pengabdian, delapan mahasiswi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Islah Bondowoso Posko 4 resmi mengakhiri masa pengabdian di Desa Kalianyar, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso.
Momentum perpisahan tersebut bukan sekadar seremoni penutup. Kegiatan itu menjadi penanda berakhirnya rangkaian pengabdian sekaligus refleksi atas berbagai program yang telah dijalankan mahasiswa bersama masyarakat Desa Kalianyar.
Selama berada di tengah masyarakat, para mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga berperan sebagai jembatan pengetahuan, khususnya dalam bidang keagamaan, pendidikan, serta pemanfaatan teknologi dan akses informasi.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, mahasiswa berupaya mendorong masyarakat, terutama generasi muda, agar semakin terbuka terhadap inovasi dan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan.
STIT Al-Islah Bondowoso selama ini dikenal memiliki komitmen dalam membentuk calon pendidik berjiwa santri yang cerdas, sederhana, dan berintegritas. Nilai tersebut menjadi salah satu landasan mahasiswa dalam menjalankan pengabdian selama berada di Desa Kalianyar.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Bondowoso, Subangkit Adiputra, mengapresiasi kontribusi mahasiswa KKN selama berada di Desa Kalianyar.
Ia berharap berbagai ilmu dan kegiatan yang telah diberikan kepada masyarakat dapat memberikan manfaat, terutama bagi generasi muda sebagai bekal untuk menghadapi masa depan.
“Apa yang diberikan kepada masyarakat Desa Kalianyar semoga bermanfaat, khususnya bagi generasi muda. Semoga bisa menjadi bekal bagi mereka sebagai penerus sehingga dapat tercipta generasi emas,” tutur Subangkit.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para mahasiswi STIT Al-Islah Bondowoso yang telah melaksanakan pengabdian di Desa Kalianyar. Permohonan maaf juga disampaikan apabila selama proses KKN terdapat tutur kata maupun sikap yang kurang berkenan.
“Terima kasih kepada mahasiswi STIT Al-Islah. Kalau selama berada di sini ada tutur kata atau sikap yang kurang berkenan, kami mohon maaf,” katanya.
Subangkit juga menyampaikan apresiasi atas kepercayaan STIT Al-Islah Bondowoso yang menjadikan desa tersebut sebagai lokasi KKN.
Kehadiran mahasiswa dinilai memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus membantu pelaksanaan sejumlah program di desa.
“Kami sangat terbantu dengan adanya adik-adik KKN. Kami sangat mengapresiasi program-program yang telah dijalankan para peserta KKN,” ujarnya.
Berakhirnya masa KKN diharapkan bukan menjadi akhir dari hubungan antara mahasiswa dan masyarakat. Silaturahmi yang telah terbangun selama proses pengabdian diharapkan tetap terjaga dan dapat berlanjut melalui berbagai kegiatan positif di masa mendatang.
Bagi delapan mahasiswi STIT Al-Islah, KKN menjadi bagian dari perjalanan akademik sekaligus pengalaman langsung untuk belajar memahami persoalan masyarakat dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan.
- Pewarta : Ony































