KABUPATEN MALANG, Zonapos.co.id – Upaya meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraan petani terus berjalan melalui strategi penguatan agribisnis berbasis komoditas unggulan. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Muslimin, S.Pd., M.H., menegaskan, pengembangan bawang merah tidak boleh lagi hanya berfokus pada aspek peningkatan produksi semata. Rabu, (26/08/2026)
Pemerintah Kabupaten Malang bersama Kementerian Pertanian harus memperkuat seluruh mata rantai usaha secara terpadu. Langkah ini mencakup keseluruhan proses, mulai dari ketersediaan sarana produksi, proses budidaya, penanganan pascapanen, pengolahan nilai tambah, hingga efisiensi jalur pemasaran.
Menyentuh sektor hulu dan budidaya, Muslimin menjelaskan bahwa peningkatan hasil harus ditopang oleh kepastian subsidi sarana produksi, penyebaran benih varietas unggul, dan ketersediaan pupuk. Dukungan pemeliharaan infrastruktur pengairan seperti jaringan irigasi serta sistem pompanisasi air pun tak kalah penting.
“Dengan penerapan teknologi tanam yang tepat, perbaikan kualitas benih, dan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), potensi produktivitas bawang merah sesungguhnya mampu didorong melampaui angka 30 ton per hektar,” ujarnya.
Tidak cukup hanya pada teknik penanaman, politisi ini juga menyoroti krusialnya memperkuat sektor hilir. Hal ini dapat dilakukan melalui pembentukan kawasan sentra terpadu sekaligus memperkokoh kelembagaan petani agar lebih tangguh dalam menjalankan usahanya.
Kelompok tani perlu ditingkatkan kemampuannya hingga bertransformasi menjadi koperasi. Dengan demikian, petani memiliki posisi tawar yang kuat serta mampu membeli sarana produksi dan menyusun kontrak pemasaran secara bersama-sama.
Di samping itu, penyediaan fasilitas gudang penyimpanan termasuk Sistem Resi Gudang serta pelatihan penanganan pascapanen pun menjadi keharusan. “Tujuannya agar petani tidak dirugikan saat harga jatuh di masa panen raya, sekaligus membuka peluang mengolah hasil menjadi bawang goreng maupun bumbu instan kemasan,” imbuhnya.
Guna menjaga pendapatan petani tetap stabil, ia mendorong pemerintah daerah mempertemukan kelompok tani secara langsung dengan pembeli tetap. Mitra yang dimaksud meliputi pasar modern, industri pengolahan pangan, hingga jaringan hotel dan restoran.
“Kemitraan langsung seperti ini akan memangkas rantai perantara yang selama ini terlalu panjang. Dengan begitu, bagian keuntungan yang diterima petani bisa jauh lebih besar,” tegasnya.
Ia juga mengusulkan pemanfaatan teknologi digital untuk menyusun jadwal tanam dan panen. Langkah ini bertujuan mencegah penumpukan hasil produksi dalam waktu yang bersamaan yang justru merugikan petani.
Muslimin mencontohkan keberhasilan program integrasi kawasan seperti UPLAND di Kabupaten Malang yang terbukti nyata meningkatkan produktivitas bawang merah. Kunci keberhasilannya terletak pada sinergi tiga hal: kemudahan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian, ketersediaan infrastruktur yang memadai, serta pendampingan teknis yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Inti dari strategi yang ingin kita wujudkan adalah satu kesatuan rantai usaha yang utuh, dari benih hingga terciptanya nilai tambah produk. Agar pada akhirnya, tujuan mulia meningkatkan kesejahteraan petani dapat tercapai secara nyata dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Pewarta: Wiratama































