TANGGAMUS, Zonapos.co.id— Integritas aparatur desa kembali diuji oleh drama klasik premanisme yang bersalin rupa. Adelia Nuraini (21), Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pekon Sinarjawa, baru saja mencicipi getirnya intimidasi dari dua sosok “asing” yang datang membawa narasi ancaman di balik seragam imajiner pengawas pusat. Jum’at (30/01/2026)
Peristiwa yang mencoreng ketenangan warga Kecamatan Air Naningan ini meletus pada Kamis (29/1/2026), tepat saat matahari berada di puncaknya, sekira pukul 12.15 WIB. Adelia, yang saat itu bersiap menjalankan rutinitasnya, justru disergap oleh dua Orang Tak Mengenal (OTK) yang tanpa permisi memaksa masuk ke ruang pribadinya.
Modusnya usang namun tetap beracun: mereka mengaku sebagai “utusan pusat”. Dengan nada bicara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar otoriter, salah satu oknum meluncurkan ancaman halus namun mematikan—membawa-bawa nama Kejaksaan sebagai alat untuk memeras.
”Mereka mengancam saya akan dipanggil ke Kejaksaan jika tidak segera ‘dibantu’,” kenang Adelia dengan nada getir saat ditemui jurnalis di kediamannya, Jumat (30/1/2026).
Ironi memuncak ketika dialog intimidatif selama 30 menit itu berujung pada angka-angka. Bak pedagang di pasar loak, kedua oknum tersebut mulai “menawar” harga harga diri hukum. Mereka membandingkan tarif intimidasi di tempat lain yang mencapai Rp1,9 juta, namun dengan kemurahan hati yang palsu, mereka menetapkan angka Rp1,2 juta untuk Adelia.
Terpojok dalam labirin ketakutan, Adelia terpaksa merelakan uang tersebut sebelum akhirnya mengadu kepada Kepala Pekon.
Merespons fenomena “hama” sosial ini, Kepala Pekon Sinarjawa terpilih, Hadi Hariyanto, tidak tinggal diam. Ia mengecam keras tindakan oknum yang menjual jabatan demi recehan. Hadi mengingatkan bahwa kewaspadaan adalah pertahanan pertama melawan parasit yang mengaku pejabat.
“Ini adalah tamparan sekaligus pembelajaran. Jangan mudah terpukau atau terintimidasi oleh identitas yang tidak jelas. Kita harus lebih teliti agar tidak diperdaya oleh mereka yang mencari makan dari rasa takut orang lain,” tegas Hadi.
Guna memutus rantai aksi serupa, Hadi membuka pintu komunikasi selebar-lebarnya bagi warga. Ia bahkan mencantumkan nomor pribadinya (0822-6951-1519) sebagai saluran darurat 24 jam. Sebuah langkah responsif untuk memastikan bahwa Sinarjawa bukan ladang empuk bagi para petualang culas.
Pewarta : Hanafi































