Semarang, Zonapos.co.id – Di tengah meningkatnya kasus penelantaran dan kekerasan terhadap anak, Rumah Anak Surga (RANS) hadir sebagai rumah aman yang menaungi bayi-bayi terlantar di Kota Semarang. Lembaga ini berdiri dilandasi kepedulian terhadap tingginya angka penelantaran anak yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Sosial per 15 Desember 2020, tercatat sebanyak 67.368 bayi terlantar di Indonesia. Sementara itu, data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2008 mencatat angka aborsi mencapai 2,5 juta kasus. Angka tersebut menjadi salah satu latar belakang lahirnya inisiatif pendirian Rumah Anak Surga.
Saat ini, Rumah Anak Surga menampung 16 bayi dengan beragam latar belakang. Beberapa di antaranya berasal dari keluarga dengan persoalan ekonomi, kehamilan tidak diinginkan, korban perceraian orang tua, hingga bayi yang terdampak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Pengelola Rumah Anak Surga menjelaskan, pihaknya berkomitmen memberikan pengasuhan menyeluruh bagi bayi-bayi yang diasuh. Tidak hanya menyediakan perlengkapan dasar, RANS juga memastikan pemenuhan gizi, imunisasi, pemeriksaan kesehatan rutin, serta stimulasi pendidikan sejak dini.
“Kami berusaha memberikan perawatan yang aman dan nyaman. Bayi-bayi di sini rutin dijemur, diajak jalan pagi, dilatih perkembangan motoriknya, dan dikenalkan dengan bacaan Al-Qur’an sejak dini,” ujar pengelola RANS saat ditemui di lokasi.
Pendirian Rumah Anak Surga bermula dari sebuah peristiwa yang menyentuh. Seorang ibu datang membawa bayinya yang baru berusia 28 hari, saat yayasan tersebut masih dalam proses perizinan. Ibu tersebut meminta perlindungan sementara bagi bayinya hingga kondisi mental dan ekonominya membaik.
Dalam kisah yang dibagikan pengelola, ibu tersebut menghadapi berbagai persoalan rumah tangga. Pernikahannya tidak mendapat restu orang tua sehingga ia dan suaminya harus hidup mandiri di sebuah kamar kos. Setelah kelahiran sang buah hati, masalah ekonomi semakin berat, ditambah konflik keluarga dan kabar perselingkuhan suami yang disebut telah menikah lagi.
“Penelantaran bayi sungguh perbuatan yang tidak manusiawi, karena bayi merupakan titipan Tuhan dan patut untuk dimanusiakan. Jika tidak dapat dirawat, lebih baik dititipkan pada tempat yang mampu memanusiakan bayi-bayi tersebut,” tutur pengelola RANS.
Manajer Rumah Anak Surga, Melisa, juga menyampaikan alasan pribadinya terlibat dalam pengelolaan rumah aman tersebut. Ia mengaku memiliki latar belakang keluarga tanpa kehadiran seorang ayah, sehingga memahami perasaan kehilangan yang mungkin dialami anak-anak.
“Melihat latar belakang saya yang kini tidak memiliki seorang ayah, saya bisa merasakan bagaimana sedihnya bayi-bayi yang tidak pernah bertemu orang tuanya. Mereka terlahir tanpa dosa dan masih memiliki masa depan yang panjang. Itu yang membuat saya ingin merawat dan menjadi penolong bagi mereka,” ujarnya.
Selain pengasuhan, Rumah Anak Surga membuka program kunjungan edukasi bagi masyarakat yang ingin berinteraksi langsung dengan bayi-bayi yang diasuh. Pengunjung umumnya datang untuk memberikan bantuan, berbagi cerita, maupun belajar tentang isu penelantaran anak.
Melalui akun Instagram @rumahanaksurga dan situs resmi mereka, Rumah Anak Surga membagikan informasi mengenai kegiatan, perkembangan bayi, serta latar belakang dan visi-misi lembaga. Upaya tersebut dilakukan untuk menjangkau masyarakat lebih luas sekaligus membangun kepedulian sosial.
Kehadiran Rumah Anak Surga diharapkan dapat menjadi tempat perlindungan yang layak bagi bayi-bayi terlantar. Lebih dari sekadar rumah singgah, lembaga ini berupaya memberikan kasih sayang, perhatian, pendidikan, dan pembinaan agar anak-anak yang diasuh memiliki kesempatan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan menjalani kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Reporter: M. Efendi































