Semarang, Zonapos.co.id – Ratusan mahasiswa dari berbagai elemen di Kabupaten Semarang menggelar aksi konsolidasi di Kampus Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI (UNDARIS), Rabu (8/4). Mereka mendesak pemerintah daerah segera bertindak tegas terhadap maraknya praktik wisata tanpa izin dan aktivitas tambang ilegal yang dinilai kian meresahkan.
Aksi yang diinisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNDARIS itu menjadi titik temu berbagai organisasi dan komunitas mahasiswa lintas wilayah. Sejak siang, massa memadati area kampus dengan membawa spanduk tuntutan serta menggelar orasi secara bergantian.
Presiden BEM UNDARIS dalam orasinya menegaskan, persoalan yang mereka soroti bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan telah berdampak luas terhadap lingkungan dan potensi kerugian daerah. “Kami melihat ada pembiaran terhadap praktik-praktik ilegal yang jelas merugikan masyarakat,” ujarnya di hadapan massa.
Sejumlah tuntutan disampaikan dalam aksi tersebut. Mahasiswa meminta Pemerintah Kabupaten Semarang di bawah kepemimpinan Ngesti Nugraha segera menertibkan destinasi wisata yang beroperasi tanpa izin resmi. Mereka menilai keberadaan wisata liar tidak hanya melanggar tata ruang, tetapi juga berpotensi menyebabkan kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti maraknya aktivitas tambang galian C ilegal di sejumlah wilayah. Praktik tersebut disebut telah merusak lingkungan, terutama di kawasan lereng pegunungan, serta mengancam keberlangsungan sumber daya air bagi masyarakat sekitar.
Dalam pernyataan sikapnya, massa juga mendesak adanya transparansi data perizinan usaha. Mereka meminta pemerintah membuka akses informasi kepada publik guna mencegah dugaan praktik kolusi antara oknum pejabat dan pelaku usaha.
Pemilihan kampus sebagai lokasi aksi disebut bukan tanpa alasan. Mahasiswa menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan kepentingan publik berbasis kajian akademik. Beberapa perwakilan organisasi mahasiswa mengaku telah melakukan penelitian lapangan terkait dampak tambang ilegal, termasuk terhadap ketersediaan air bersih warga.
“Kami tidak datang hanya dengan tuntutan kosong. Ada data dan temuan di lapangan yang menunjukkan kerusakan nyata,” kata salah satu koordinator aksi dalam mimbar bebas.
Hingga sore hari, massa masih bertahan di lokasi dengan menggelar diskusi terbuka. Mereka menyatakan akan terus mengawal isu tersebut dan membuka kemungkinan aksi lanjutan apabila tidak ada respons konkret dari pemerintah daerah.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Semarang terkait tuntutan yang disampaikan mahasiswa tersebut.
Red































