SINJAI, Zonapos.co.id— Di bawah terik matahari yang menyengat di Jalan Petta Punggawae, Kelurahan Balangnipa, SPBU 74-92645 (Lita) menyuguhkan pemandangan yang barangkali dianggap lazim bagi mereka yang menutup mata: parade jeriken-jeriken jumbo yang berpesta pora menyedot BBM subsidi. Sabtu sore, 21 Maret 2026, hukum distribusi tampak seperti selembar kertas usang yang tak berdaya di tangan para “penghisap” hak rakyat jelata.
Mandat yang Terbengkalai: “Isi Sendiri karena Lelah”
Pemandangan ini bukan sekadar antrean, melainkan potret anarki kecil di tengah kota. Kendaraan datang silih berganti, bukan untuk mengisi tangki mesin, melainkan menumpuk jeriken dalam jumlah yang tak masuk akal. Mirisnya, pengelola SPBU seolah memberikan restu dalam diam.
Alibi yang dilempar oleh petugas lapangan pun terdengar seperti lelucon pahit. Dengan wajah tanpa beban, ia berkelit di balik alasan kemanusiaan yang dipaksakan.
“Manajer sedang ke Sinjai Barat, Pak, karena hari ini Lebaran. Saya capek, jadi mereka isi sendiri,” ucapnya datar.
Sebuah pengakuan jujur yang menampar wajah standar operasional prosedur (SOP) mana pun. Di sana, rasa lelah seorang petugas rupanya lebih berdaulat ketimbang regulasi negara yang seharusnya menjaga agar subsidi tidak salah alamat.
Aparat yang Terlelap dalam Gurihnya Buras
Namun, komedi distribusi ini belum mencapai puncaknya hingga kita mendengar suara dari penegak hukum. Saat publik di grup-grup WhatsApp riuh membicarakan praktik “bebas hambatan” ini, Kapolsek Sinjai Utara justru memberikan respons yang barangkali terlalu jujur untuk ukuran seorang pejabat publik.
“Maaf, saya tertidur di ruangan karena kebanyakan makan buras,” ujarnya tanpa beban saat dikonfirmasi media.
Di tengah jeritan petani yang harus memeras keringat hanya untuk seliter bensin, pengakuan “mabuk buras” ini adalah satir yang sempurna. Meskipun kemudian ia mencoba memberikan penjelasan teknis mengenai pengurangan pasokan Pertamina dari 21 ton menjadi 16 ton, aroma ketidaktahuan itu sudah terlanjur menyeruak. Sang Kapolsek pun hanya mampu berucap “Waduhhh” saat fakta pengisian jeriken tanpa pengawasan itu disodorkan ke depan hidungnya.
Jeritan Petani: Antara Prosedur dan Diskriminasi
Kontradiksi ini menjadi luka yang menganga bagi masyarakat kecil, khususnya petani dari Kecamatan Bulupoddo. Bagi mereka, aturan adalah tembok tinggi yang kaku.
“Kalau kami petani, bawa satu jeriken saja sering dipersulit. Ini malah ada yang isi puluhan jerigen tanpa hambatan,” keluh seorang petani dengan nada yang sarat akan rasa ketidakadilan.
Di lapangan, aturan hanya tajam bagi mereka yang lemah. Sementara bagi oknum dengan jeriken-jeriken besarnya, gerbang SPBU Lita tampak terbuka selebar-lebarnya tanpa pengawasan, tanpa rekomendasi, dan tanpa rasa malu.
Menanti Ketegasan atau Sekadar Seremonial?
Jika pembiaran ini terus dipelihara, maka subsidi energi tak lebih dari sekadar bancakan bagi mereka yang punya cara untuk “main mata”. Negara tak boleh kalah oleh rasa lelah petugas atau kantuk sang aparat setelah pesta makanan.
Investigasi menyeluruh bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Kecuali jika kita memang sepakat bahwa keadilan di Sinjai memang semurah harga bensin subsidi yang bocor ke tangan-tangan tak berhak. (Tim)































