Singkawang, Kal-Bar, Zonapos.co.id — Polemik Bandara Singkawang kian memanas. Pengamat Transportasi Intermoda Kalimantan Barat sekaligus Ketua Masyarakat Transportasi Udara Indonesia (MTUI) Kalimantan Barat, Syarif Usmulyani Alqadrie, AH.PNB., SE., SSIT., bersama Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik Kalimantan Barat, Dr. Herman Hofi Munawar, S.H., M.H., secara terbuka menantang Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, untuk berdebat mengenai tujuan dan arah pembangunan Bandara Singkawang. Kamis, (24/9).
Tantangan tersebut bukan sekadar persoalan adu argumentasi, tetapi untuk meminta pemerintah memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat: sebenarnya Bandara Singkawang dibangun untuk apa, selain dengan alasan kemajuan Kota Singkawang?
Keduanya mempertanyakan apakah pembangunan bandara tersebut telah memiliki tujuan strategis yang terukur, manfaat ekonomi yang jelas, serta arah pengembangan yang mampu menjawab kepentingan masyarakat dalam jangka panjang.
“Kalau memang tujuan pembangunan Bandara Singkawang untuk kemajuan kota, mari kita buka secara terang di hadapan publik. Apa targetnya, apa manfaatnya, bagaimana ukurannya, dan sampai sejauh mana bandara ini benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat? Jangan hanya mengatakan untuk kemajuan kota, tetapi publik tidak mendapatkan penjelasan yang konkret,” tegas Syarif.
Syarif menegaskan, apabila debat terbuka tersebut benar-benar dilakukan, pembahasannya harus berangkat dari regulasi dan aturan perundang-undangan yang berlaku, serta berpikir secara logika dan rasional, bukan sekadar saling menyampaikan klaim atau kepentingan politik.
“Kita bicara berdasarkan regulasi dan aturan undang-undang, kemudian gunakan logika dalam melihat persoalan. Jangan sampai pembangunan sebuah bandara hanya dijelaskan dengan kalimat normatif seperti untuk kemajuan kota, tetapi ketika ditanya apa tujuan strategisnya, manfaatnya, targetnya, serta dasar kebijakannya tidak mampu dijelaskan secara konkret,” ungkapnya.
Selain itu, jangan sampai Wali Kota hanya berkedok mengatakan pembangunan Bandara Singkawang untuk kemajuan kota, tetapi kami menduga adanya terselubung dibalik itu semuanya. Wali Kota harus bicara jujur di depan publik. Biar publik tidak menjadi bertanda tanya terus dibalik semua ini.
Menurutnya, masyarakat berhak menguji setiap kebijakan pemerintah, terlebih pembangunan infrastruktur strategis seperti bandar udara.
“Mari kita bedah bersama, apa dasar hukumnya, apa tujuan pembangunannya, bagaimana perencanaannya, bagaimana pengawasannya, dan apa manfaat nyata yang diberikan kepada masyarakat. Kalau semuanya sudah sesuai regulasi dan memiliki argumentasi yang kuat secara logika, tentu tidak ada alasan untuk menghindari debat terbuka,” ujarnya.
Menurutnya, bandara bukan sekadar bangunan dan fasilitas penerbangan. Ada persoalan keselamatan, keamanan, konektivitas, pelayanan, investasi, ekonomi daerah hingga efektivitas pemanfaatan infrastruktur yang harus dipertanggungjawabkan.
Karena itu, Syarif meminta Wali Kota tidak menghindari ruang diskusi apabila memang memiliki argumentasi yang kuat dan mempunyai wawasan.
“Saya tantang Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie untuk debat terbuka. Mari kita bicara secara objektif, bukan berdasarkan klaim. Kalau benar Bandara Singkawang memiliki tujuan strategis yang kuat dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat, jelaskan kepada publik. Kami siap menguji argumentasinya secara terbuka,” tegas Syarif.
Senada, Herman Hofi Munawar menilai masyarakat berhak mempertanyakan arah pembangunan infrastruktur publik yang berdampak besar terhadap kepentingan daerah. Menurutnya, pertanyaan mengenai tujuan pembangunan bandara bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan bagian dari kontrol publik agar kebijakan pemerintah dapat diuji secara terbuka.
“Jangan alergi terhadap pertanyaan publik. Justru pejabat publik harus siap menjelaskan setiap kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Kalau memang yakin dengan kebijakan pembangunan Bandara Singkawang, kenapa harus takut berdebat secara terbuka?” ujar Herman.
Ia menegaskan, ruang debat tersebut dapat menjadi momentum untuk menguji secara terbuka berbagai argumentasi mengenai keberadaan Bandara Singkawang, mulai dari tujuan awal pembangunan, manfaat bagi masyarakat, kontribusi terhadap perekonomian daerah, hingga arah pengembangannya ke depan.
“Kami tidak meminta jawaban normatif. Kami meminta penjelasan yang konkret dan dapat diuji. Bandara ini dibangun dengan tujuan apa, siapa yang paling diuntungkan, apa target yang ingin dicapai, dan bagaimana pemerintah memastikan seluruh investasi yang telah dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Kalau Wali Kota siap, mari debat terbuka,” pungkas Herman.
Selain itu, Syarif juga meminta agar Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pertahanan turut hadir apabila debat atau forum terbuka tersebut nantinya digelar. Menurutnya, kehadiran kementerian terkait penting agar pembahasan mengenai tujuan, regulasi, aspek keselamatan, keamanan, serta arah strategis Bandara Singkawang dapat dijelaskan secara komprehensif dan tidak berhenti pada perdebatan tingkat daerah.
“Saya meminta kepada Kementerian Perhubungan serta Kementerian Pertahanan untuk hadir dalam acara nantinya. Kita ingin persoalan ini dibahas secara terbuka, berdasarkan regulasi, aturan perundang-undangan, data dan fakta. Jangan hanya pemerintah daerah yang menjelaskan, tetapi pihak kementerian juga perlu memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai posisi dan tujuan strategis Bandara Singkawang,” tegas Syarif.
Menurutnya, Pemkot Singkawang jangan hanya selalu membanggakan dan terus-menerus mempromosikan Bandara Singkawang sebagai bagian dari kemajuan daerah, tetapi harus mampu menunjukkan tanggung jawab atas keberadaan dan pengelolaan bandara tersebut.
“Jangan selalu membanggakan dan selalu mempromosikan Bandara Singkawang, akan tetapi ketika muncul persoalan, pemerintah juga harus mampu bertanggung jawab dan memberikan penjelasan kepada masyarakat. Jangan hanya bicara soal kebanggaan dan kemajuan kota, tetapi aspek keselamatan, keamanan, pengawasan, pelayanan serta manfaat nyata bagi masyarakat juga harus dapat dipertanggungjawabkan, serta dengan adanya debat terbuka seperti ini tidak ada lagi pembodohan terhadap masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, kami menunggu jawaban dari Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie beserta jajarannya untuk menanggapi tantangan Debat Terbuka Publik ini.
Menurutnya, debat terbuka tersebut dapat menjadi ruang yang sehat bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan penjelasan secara langsung kepada masyarakat mengenai tujuan, dasar kebijakan, manfaat, serta arah pengembangan Bandara Singkawang.
“Kami menunggu jawaban dari Wali Kota Singkawang beserta jajarannya. Apakah siap hadir dalam Debat Terbuka Publik untuk menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat mengenai Bandara Singkawang? Jangan sampai pertanyaan publik hanya dijawab dengan pernyataan normatif. Kami siap berdiskusi berdasarkan regulasi, data, fakta dan argumentasi yang dapat diuji,” tegasnya.
Ia menambahkan, pihaknya tidak bermaksud mencari perdebatan tanpa dasar, melainkan mendorong adanya ruang dialog yang terbuka dan objektif sehingga masyarakat dapat mengetahui secara jelas persoalan yang dipertanyakan.
“Kami memberikan kesempatan kepada Wali Kota dan jajaran untuk menjelaskan secara terbuka. Kami menunggu respons dan kesediaannya. Kalau memang semua sudah memiliki dasar yang jelas, mari kita duduk bersama dan membahasnya di hadapan publik,” pungkasnya.
Awak media telah mencoba melakukan konfirmasi kepada Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, untuk meminta tanggapan terkait tantangan Debat Terbuka Publik yang disampaikan kedua pengamat tersebut. Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh jawaban atau tanggapan resmi dari Wali Kota Singkawang terkait tantangan tersebut.































