Kabupaten Semarang, Zonapos.co.id – Petani durian di Desa Cantingan, Brongkol, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, mengeluhkan hasil panen durian tahun 2026 yang tidak optimal. Musim panen yang biasanya berlangsung pada Desember hingga Januari, tahun ini meleset karena banyak pohon tidak berbuah atau hanya menghasilkan buah dalam jumlah sedikit.
Mbah Pri, salah satu petani durian setempat, mengaku hingga pertengahan Januari 2026 dirinya belum bisa memanen durian seperti tahun-tahun sebelumnya. Padahal, pada periode tersebut biasanya sudah memasuki panen raya.
“Biasanya Desember atau Januari sudah panen. Tapi sampai sekarang belum ada. Banyak pohon tidak berbuah,” ujar Mbah Pri saat ditemui di rumahnya, Sabtu (14/2/2026).
Ia menduga tingginya intensitas hujan menjadi penyebab utama menurunnya hasil panen. Menurutnya, curah hujan yang turun hampir setiap hari membuat bunga durian mudah rusak dan rontok sebelum berkembang menjadi buah.
“Kalau hujan terus, bunga durian mudah rusak dan rontok,” katanya.
Durian lokal Brongkol dikenal memiliki ciri khas daging tebal, rasa manis legit berpadu sedikit pahit, serta aroma yang tajam. Sebagian besar pohon durian di desa tersebut merupakan tanaman tua peninggalan nenek moyang. Usianya diperkirakan mencapai ratusan tahun dengan diameter batang hingga sekitar tiga meter.
“Biasanya pohon-pohon tua ini tetap berbuah setiap tahun,” ungkapnya.
Namun pada musim ini, hasil panen menurun drastis. Pohon besar yang sebelumnya mampu menghasilkan hingga 500 buah, kini hanya berbuah sekitar 200 buah. Sementara pohon yang lebih kecil, dari rata-rata 250 buah, kini hanya menghasilkan sekitar 20 buah.
Kondisi tersebut berdampak pada ketersediaan durian Brongkol di pasaran. Sejumlah pelanggan dari berbagai daerah yang biasa memesan durian mengaku kecewa karena stok tidak tersedia.
“Banyak yang menanyakan, tapi memang tidak ada durian. Mau tidak mau mereka kecewa,” kata Mbah Pri.
Ia memperkirakan sebagian kecil pohon yang masih berbuah baru akan bisa dipanen pada awal Februari 2026, itu pun dengan jumlah terbatas.
Bagi warga Desa Brongkol, durian merupakan komoditas andalan untuk menopang pendapatan tahunan. Hampir setiap keluarga memiliki pohon durian yang biasanya berbuah rutin setiap musim. Perawatan seperti pemupukan rutin, baik menggunakan pupuk kandang maupun pupuk kimia, tetap dilakukan oleh petani.
“Walaupun setahun sekali, hasil durian sangat membantu ekonomi warga,” ujarnya.
Selain mempertahankan pohon durian lokal tua, sebagian petani juga mulai menanam varietas unggulan seperti musang king, duri hitam, dan bawor sebagai upaya diversifikasi. Namun, kondisi cuaca yang tidak menentu tetap menjadi tantangan utama pada musim panen tahun ini.
Reporter: M. Efendi































