TANGGAMUS, Zonapos.co.id– Bau amis ketidak terbukaan kini lebih menyengat daripada limbah selokan di SMAN 1 Semaka. Dengan kucuran total dana publik yang menembus angka Rp2,3 Miliar, yang bersumber dari dana revitalisasi sebesar Rp1.176.261.000 dan dana BOS sebesar Rp1,1 Miliar pada tahun 2025, sekolah ini justru mempertontonkan kemiskinan nurani: fasilitas sanitasi yang hitam berkerak, kayu bekas yang terbengkalai, dan sistem drainase yang mati total. Publik pun bertanya: apakah uang miliaran itu habis untuk membangun tembok transparansi yang tinggi, ataukah sekadar menguap di balik drama “oper bola” para pejabatnya yang enggan bertanggung jawab? Sabtu (14/02/2026)
Kunjungan media untuk membedah transparansi pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di institusi ini justru disambut dengan drama “oper bola” yang mahir. Sebuah ironi di dunia pendidikan, di mana kejujuran seharusnya menjadi menu utama, bukan birokrasi yang saling melempar tanggung jawab.
Sang Nakhoda yang ‘Hilang’ Sebelum Waktunya
Pintu gerbang sekolah masih terbuka lebar saat jarum jam belum lagi mengetuk waktu Zuhur. Namun, sosok sang kepala sekolah sudah tidak ditemukan di singgasananya.
“Kepala sekolah tidak ada, baru saja pulang,” ujar petugas keamanan sekolah dengan nada datar. Sebuah kepulangan yang terlalu dini bagi seorang pemimpin lembaga yang tengah mengelola dana publik dalam jumlah fantastis.
Kejuaraan Nasional “Pingpong” Anggaran
Jika ada penghargaan untuk seni menghindar, sang Nakhoda sekolah ini adalah kandidat terkuat. Belum juga matahari tegak lurus, sang Kepala Sekolah sudah raib dari singgasananya. Pulang sebelum Zuhur? Sungguh sebuah dedikasi luar biasa bagi seorang pejabat yang mengelola uang publik lebih dari satu miliar rupiah. Apakah beliau sedang mengejar mimpi, atau sedang lari dari realita transparansi yang mulai menagih janji?
Drama berlanjut di ruang Bendahara BOS. Dengan mimik wajah yang seolah-olah memikul beban dosa seluruh umat manusia, sang bendahara meluncurkan keluhan legendarisnya:
”Untuk masalah ini ketemu saja dengan Humas. Abang ini dari luar hubungannya dengan Humas dulu… nanti kalau semua-semuanya saya, capek saya ngurus sekolah, pecah kepala saya,” keluh Imam Bendahara BOS. Sebuah pembelaan diri yang terdengar lebih mirip drama daripada penjelasan administratif. Jum’at (13/02/2026)
Oper bola ke Humas, lalu Humas yang “bingung” melempar balik ke Sarpras. Sebuah sirkus birokrasi yang sempurna untuk membodohi publik, atau mungkin mereka sendiri memang sedang terjebak dalam labirin kebohongan yang mereka bangun sendiri?
“Kalau masalah itu, yang berwenang memberikan jawaban Sarpras dan Bendahara. Bingung saya mau menjawabnya,” elak Perdiyan. Publik pun dipaksa menyaksikan permainan “pingpong” birokrasi: Bendahara melempar ke Humas, Humas melempar balik ke Bendahara dan Sarpras.
Estetika “Maut” dan Drainase Purba
Mari kita bicara fakta lapangan yang menampar logika. Dana revitalisasi sebesar Rp1.176.261.000 kabarnya digunakan untuk rehabilitasi ruang dan toilet “mewah”. Belum lagi ucuran Dana BOS sebesar Rp1.146.000.000 mengalir masuk, dengan catatan pemeliharaan sarana prasarana menyedot Rp225.700.000. Namun, di balik angka-angka megah tersebut, jepretan kamera di sudut-sudut sekolah bicara lain:
• Plafon Gantung Penjemput Ajal: Di langit-langit kelas, plafon jebol menggantung dengan anggun, seolah sedang menunggu momentum yang tepat untuk jatuh dan “memberkati” kepala siswa di bawahnya. Apakah ini konsep sekolah outdoor terbaru atau sekadar pembiaran yang berujung maut?
• Monumen Kayu Bekas: Tumpukan material terbengkalai di depan kelas dibiarkan membusuk, menambah kesan bahwa sekolah ini lebih mirip gudang rongsokan daripada tempat menimba ilmu.
• Toilet Rasa Terminal: Dengan kucuran miliaran, toilet sekolah masih menyuguhkan lantai hitam berkerak menahun dan pintu yang ringsek. Mungkin anggaran “mewah” itu hanya habis untuk membeli pewangi ruangan yang gagal menutupi bau amis pengelolaan anggaran?
• Laboratorium Nyamuk: Drainase sekolah kini bertransformasi menjadi kolam hitam pekat, tersumbat sampah, dan ditumbuhi lumut tebal. Sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan dana pemeliharaan sarana prasarana sebesar Rp225.700.000. Ke mana perginya uang itu? Apakah habis untuk membeli sabun cuci tangan para pejabatnya agar tetap “bersih”?
Honorarium Gemuk di Atas Penderitaan Siswa
Sangat menggelitik—atau tepatnya memuakkan—melihat angka honorarium yang mencapai Rp337.950.000. Pejabatnya kenyang, tapi siswanya harus bertaruh nyawa di bawah plafon jebol dan menghirup aroma busuk selokan setiap hari.
Antara Estetika dan Akuntabilitas
Dinding boleh saja dicat mengkilap, tapi integritas tidak bisa dipoles hanya dengan kuas murahan. Transparansi bukan sekadar menempel angka di papan pengumuman yang berdebu, melainkan keberanian untuk tidak menjadi “penakut” saat ditanya ke mana setiap rupiah pajak rakyat bermuara.
Hingga berita ini turun, “pecah kepala” sang bendahara dan “kebingungan” sang Humas tetap menjadi teka-teki: Apakah mereka benar-benar lelah bekerja, atau sedang kelelahan menutupi bangkai di balik labirin anggaran tersebut?
Satu hal yang pasti: Di SMAN 1 Semaka, kejujuran adalah barang langka yang harganya jauh lebih mahal daripada seluruh proyek revitalisasi itu sendiri.
Pewarta : Hanafi































