ASAHAN, Zonapos.co.id – Warga Desa Pondok Bungur, Kecamatan Rawang Panca Arga, Kabupaten Asahan, mengaku sudah jenuh dengan kepemimpinan Jaka Maulana sebagai Kepala Desa.
Keluhan demi keluhan terus muncul, terutama terkait kehadiran Jaka Maulana yang dianggap jarang muncul di kantor desa, membuat warga kesulitan mengurus berbagai keperluan administrasi. Kondisi ini berlangsung cukup lama, sejak tahun 2022 hingga kini, tanpa adanya perbaikan yang signifikan.
“Kami sudah muak dengan situasi ini. Urusan administrasi di kantor desa jadi terkatung-katung karena Kades jarang hadir. Ini sudah berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan tahunan,” ujar salah seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya saat ditemui di sebuah warung kopi di desa tersebut, Jumat (16/08/2024).
Menurutnya, dalam satu bulan, Jaka Maulana hanya beberapa kali terlihat di kantor desa. Jadwal kerjanya pun tidak menentu, membuat warga kebingungan dan frustasi saat harus mengurus surat-surat penting.
“Sepengetahuan kami, Pak Kades hanya masuk kantor beberapa kali dalam sebulan, dan itu pun tidak pasti. Sering kali kita datang ke kantor, tapi dia tidak ada,” lanjutnya.
Keluhan warga semakin memuncak, mengingat dalam Peraturan Bupati Asahan No. 21 Tahun 2019 tentang hari kerja dan jam kerja kepala desa serta perangkat desa, telah diatur dengan jelas bahwa kepala desa wajib bekerja selama lima hari dalam seminggu dengan jam kerja dari pukul 07.30 WIB hingga 16.15 WIB.
Pada hari Jumat, jam kerja ditetapkan dari pukul 07.30 WIB hingga 14.00 WIB. Kewajiban ini harus dibuktikan dengan daftar hadir berupa hasil print out finger print dan buku presensi.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa aturan ini tidak dijalankan oleh Kades Pondok Bungur. Jika hal ini terus berlanjut, sesuai peraturan, Jaka Maulana dapat dikenai sanksi administratif.
Selain masalah kehadiran, warga juga mencurigai adanya penyelewengan dana Karang Taruna. Sejak menjabat sebagai Kepala Desa, Jaka Maulana dianggap tidak transparan terkait penggunaan dana tersebut. Hingga kini, warga masih mempertanyakan ke mana arah aliran dana Karang Taruna yang seharusnya digunakan untuk kegiatan pemuda desa.
“Anehnya lagi, bukannya memperhatikan kebutuhan warga, justru Kepala Desa malah sibuk membangun rumah pribadinya,” tambah seorang warga lain yang turut kecewa dengan kepemimpinan Jaka Maulana.
Hingga berita ini diturunkan, Jaka Maulana belum memberikan tanggapan atas berbagai keluhan tersebut. Pesan WhatsApp dari wartawan tidak dibalas, dan telepon pun tidak diangkat. Keheningan dari pihak kepala desa ini semakin memperkuat dugaan warga bahwa ada yang tidak beres dalam kepemimpinannya.
Pewarta: Sofiandi





























