Lampung Barat.zonapos.co.id–Di tengah keterbatasan infrastruktur, masyarakat Pekon Gunung Sugih, Kecamatan Batubrak Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, membuktikan bahwa semangat gotong-royong masih hidup dan menjadi solusi nyata untuk mengatasi masalah akses jalan yang selama ini menjadi kendala dan dikeluhkan.
Pasalnya, jalur yang mempertemukan tiga Pekon yaitu Pekon Kegeringan, Gunung Sugih, dan Turgak sekaligus dua Kecamatan yaitu Batubrak dan Kecamatan Belalau itu.
Jalur tersebut, merupakan akses penting bagi sektor pertanian warga di tiga pekon tersebut.

Setelah beberapa kali diusulkan warga dan takunjung mendapatkan respons dari pemerintah daerah sehingga warga memperbaiki jalur itu secara swadaya dan bergotong-royong.
Menurut warga, jalan tersebut bukan hanya sekadar penghubung, melainkan urat nadi kehidupan bagi masyarakat di tiga Pekon tersebut. Jalan tersebut kerap kali diusulkan untuk dibangun atau diperbaiki oleh pemerintah, namun hingga kini belum juga tersentuh.
Kondisi jalan yang rusak parah membuat akses warga yang mengeluarkan hasil bumi acapkali terhambat, terutama saat musim hujan. Sebab, jalan ini juga menjadi jalur utama bagi petani untuk mengangkut hasil pertanian mereka ke pasar.
Melihat kondisi ini, masyarakat Gunung Sugih memutuskan untuk tidak lagi menunggu bantuan dari pemerintah. Dengan semangat kebersamaan, mereka bergotong royong meratakan dan memperbaiki jalan secara swadaya. Dana yang digunakan berasal dari iuran warga, menunjukkan betapa besar tekad warga untuk memperbaiki kondisi infrastruktur tersebut.
Hal tersebut dijelaskan warga Dedi Supriadi saat dikonfirmasi, di lokasi pelaksanaan gotong – rotong.
“Kami sudah lama menunggu bantuan dari pemerintah, tapi tidak kunjung datang. Akhirnya, kami memutuskan untuk bergotong royong saja. Demi memudahkan petani mengangkut hasil panen, gotong-royong ini murni swadaya masyarakat mulai dari meterial seperti semen dan material lainya kami beli dengan cara urunan, demi memperbaiki jalan ini, karena kalau mengharapkan perhatian pemerintah entah kapan, sementara jalur ini kian hari kian rusak,” ucap Dedi.
Aksi gotong royong ini tidak hanya memperbaiki jalan, tetapi juga memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan di antara warga. Semua lapisan masyarakat, mulai dari pemuda, orang tua, hingga ibu-ibu, turun langsung untuk berkontribusi. Mereka bekerja sama membersihkan jalan, meratakan permukaan, dan memperbaiki bagian yang rusak.
Di lokasi yang sama Peratin Gunung Sugih Indra Bangsawan mengatakan, meski dilakukan secara swadaya, diharapkan mendapatkan hasil yang signifikan. Supaya jalan yang sebelumnya sulit dilalui kini menjadi lebih baik. Karena masyarakat berharap, aksi gotong royong ini bisa menjadi pemicu bagi pemerintah untuk turun tangan dan melanjutkan perbaikan jalan tersebut.
“Kami berharap pemerintah bisa melihat usaha kami dan memberikan perhatian lebih. Jalan ini sangat penting bagi kami, bukan hanya untuk pendidikan, tapi juga untuk perekonomian warga,” ucapnya.
Aksi gotong royong masyarakat Gunung Sugih ini menjadi contoh nyata bahwa semangat kebersamaan dan kemandirian masih hidup di tengah masyarakat serta membuktikan bahwa dengan kerja sama dan tekad yang kuat, masalah yang terlihat besar bisa diatasi bersama-sama.
“Semoga kisah inspiratif ini bisa menginspirasi daerah lain untuk tidak selalu bergantung pada pemerintah, tetapi juga mengambil inisiatif untuk memperbaiki kondisi di lingkungannya sendiri,” ucap Peratin.
Dikatakannya, mungkin jalur tersebut belum terkaper oleh pemerintah daerah, sehingga perbaikan jalur tersebut.
Dia juga mengatakan, dilakukannya perbaikan secara swadaya itu mengingat, tidak lama lagi warga menghadapi musim panen baik padi maupun kopi sehingga, dengan kondisi yang rusak pastinya warga kesulitan mengeluarkan hasil penan.
Peratin itu juga mengatakan, jalur tersebut telah diusulkan dan masuk dalam skala prioritas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Musrenbang), tetapi untuk anggaran tahun 2026.(Yakub)



































