BONDOWOSO, Zonapos.co.id – Mengawali periode akademik tahun 2024/2025, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Togo Ambarsari Bondowoso menggelar acara Studium Generale pada Kamis (19/09/2024).
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa baru dan lama untuk kembali membangun semangat belajar setelah liburan panjang. Acara ini mengusung tema “Membangun Homo Academicus yang Religius, Kreatif dan Inovatif: Tantangan Generasi Alpha,” dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Akhmad Muzakki, Rektor UIN Surabaya dan Koordinator Kopertais Wilayah IV.
Acara dibuka dengan penuh semangat oleh Ning Ufa, yang dengan jenaka membacakan sebuah pantun, “Pergi ke hutan mencari mantan, malah menemukan es wawan. Setelah bertemu Prof. Zaky yang rupawan, mau berhenti kuliah, eh jangan ya dek, jangan!” Pantun tersebut berhasil mencuri perhatian dan mengundang tawa dari peserta, sambil memberikan pesan motivasi kepada mahasiswa untuk tidak menyerah dalam belajar dan menyelesaikan pendidikan mereka.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Akhmad Muzakki membahas bagaimana pentingnya pendidikan progresif untuk menghadapi tantangan generasi Alpha. Ia mengutip pernyataan Sayyidina Ali ra., “Jangan didik anakmu seperti orang tuamu mendidikmu; mereka lahir untuk zaman yang berbeda,” yang menurutnya menggambarkan perlunya pendidikan yang berfokus pada masa depan.
“Pendidikan harus mampu menyesuaikan diri dengan transformasi sosial yang terus berkembang, terutama di era digital yang dihadapi generasi Alpha saat ini.” ujarnya
Prof. Muzakki juga menyoroti fenomena disrupsi nilai sebagai dampak dari perubahan cepat dari dunia manual ke digital. Menurutnya, generasi Alpha, yang sangat adaptif terhadap teknologi digital, menghadapi tantangan ketidakstabilan nilai.
“Generasi Alpha bahkan lahir dari ‘download-an’,” ungkapnya, menggambarkan tingginya keterikatan mereka dengan teknologi.
Dalam penyampaiannya, Prof. Muzakki membagi generasi berdasarkan kategori High Technology dan High Skill. Ia menjelaskan bahwa generasi kolonial yang direpresentasikan oleh dosen umumnya menguasai teknologi, namun tidak memiliki keterampilan tinggi, sementara generasi milenial, yang direpresentasikan oleh mahasiswa, justru menjadi antidot bagi itu.
“Pendidikan di era saat ini harus mampu mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi kebutuhan mahasiswa yang jauh lebih cepat dari teori yang ada di buku.” tambahnya
Sebagai solusi untuk menghadapi tantangan era ini, Prof. Muzakki menawarkan tiga pendekatan: Spiritual Engagement, Life Skills-Based Teaching Context with Local Needs, dan New, Effective Strategies of Online/Blended Learning. Menurutnya, pendekatan ini akan membantu mahasiswa menghadapi ketidakpastian dan dinamika sosial yang cepat berubah.

Orasi ilmiah yang berlangsung selama dua jam ini disampaikan dengan gaya yang memukau, dipenuhi istilah-istilah ilmiah dalam bahasa Inggris dan Arab yang disampaikan dengan fasih oleh Prof. Muzakki, seorang alumnus The Australian National University (ANU).
Sebagai penutup, ia mengutip karya Ibnu Faris dalam Mu’jam Maqayisul Lughah, yang menegaskan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang membawa dampak nyata dan membedakan sesuatu dari yang lain.
Acara ini diharapkan dapat menggugah kesadaran mahasiswa STIT Togo Ambarsari untuk lebih siap menghadapi masa depan dan menjadi bagian dari perubahan positif di masyarakat.
Pewarta: Achmad Ghozi











