No Result
View All Result
TANGGAMUS, Zonapos.co.id– Di tengah gempita klaim pembangunan desa yang seringkali hanya manis di atas kertas, sebuah potret kelam tersaji di Pekon Tugurejo, Kecamatan Semaka. Kamis (12/02/2026), menjadi saksi bisu betapa “kendaraan penyelamat” nyawa warga justru sedang sekarat di atas kaki-kakinya yang hancur, sementara anggaran operasionalnya diduga raib ditelan gelapnya tata kelola keuangan desa.
Roda yang Tak Lagi Berputar
Ambulans Pekon Tugurejo kini tak lebih dari sekadar monumen besi yang tak berdaya. Sejak dua bulan terakhir, ban mobil tersebut pecah dan dibiarkan merana tanpa penggantian. Sebuah pemandangan yang menyayat hati: di saat warga bertaruh nyawa melawan sakit, mereka harus menelan pil pahit karena fasilitas desa yang seharusnya menjadi tumpuan justru lumpuh total.
Mirisnya, warga yang membutuhkan pertolongan medis terpaksa “mengungsi” ke layanan ambulans pihak lain (Ambulans NU). Sebuah tamparan keras bagi birokrasi pekon; ketika kas desa seharusnya mampu membiayai mobilitas kesehatan, warga justru harus menggantungkan nyawa pada inisiatif pihak luar akibat ketidakmampuan pemimpin mereka mengelola aset.
”Kami seperti anak ayam kehilangan induk. Mobilnya ada, anggarannya entah ke mana. Mau pakai ambulans saja harus beli minyak sendiri, sekarang malah bannya pecah tidak diganti-ganti,” keluh seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Napak Tilas Anggaran yang “Ghaib”
Berdasarkan penelusuran mendalam tim pemburu berita di lapangan, tercium aroma busuk dalam pengelolaan dana operasional sejak tahun 2024. Data yang dihimpun mengungkap fakta yang mencengangkan sekaligus memuakkan:
1. Tahun 2024: Sepanjang tahun, ambulans tersebut tercatat hanya mendapatkan “kemewahan” berupa dua buah ban merk Dunlop, satu kali servis, dan sekali ganti oli.
2. Tahun 2025: Kondisi semakin tragis. Servis rutin seolah menjadi barang langka yang terlupakan. Perbaikan hanya menyentuh bagian kaki-kaki dan penggantian dua kanvas rem.
3. Paradoks BBM: Hal yang paling mengiris nurani adalah absennya anggaran bahan bakar minyak (BBM). Selama ini, setiap warga yang ingin menggunakan ambulans harus merogoh kocek pribadi untuk membeli bensin.
Kekhawatiran masyarakat pun kian memuncak. Salah seorang warga dengan nada getir mempertanyakan ke mana larinya dana yang seharusnya tersedia di pos anggaran desa.
”Anggarannya ada, kenapa tidak ganti bannya? Servis ganti oli setahun sekali kan parah. Takutnya mobil lagi jalan mengantar warga yang sakit, malah rusak di jalan. Itu kan taruhannya nyawa,” ungkap warga dengan nada kecewa.
Desakan Audit: Inspektorat dan APH Jangan “Tidur”
Kondisi yang carut-marut ini memicu gelombang mosi tidak percaya dari masyarakat. Warga Tugurejo kini menaruh harapan terakhir pada ketegasan pemerintah daerah. Mereka mendesak agar Inspektorat Kabupaten Tanggamus tidak hanya duduk di balik meja, tetapi segera turun ke lapangan melakukan audit menyeluruh terhadap penggunaan dana desa Tugurejo.
Tak hanya itu, Aparat Penegak Hukum (APH) juga diminta untuk tidak menutup mata atas dugaan penilapan dana publik ini. Rakyat tidak butuh alasan teknis; rakyat butuh transparansi ke mana perginya rupiah-rupiah yang seharusnya memutar roda ambulans tersebut. Pembiaran terhadap masalah ini sama saja dengan membiarkan nyawa warga terancam akibat fasilitas kesehatan yang disabotase oleh dugaan pengelolaan yang serampangan.
Publik kini menanti, apakah keadilan akan datang dengan audit yang jujur, ataukah drama “anggaran ghaib” ini akan terus melenggang bebas di bawah hidung para pengawas?
Catatan Redaksi:
Redaksi menjunjung tinggi kode etik jurnalistik. Bagi pihak-pihak yang disebutkan dalam artikel ini, kami memberikan ruang seluas-luasnya untuk menggunakan Hak Koreksi dan Hak Jawab sesuai dengan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999.
*(Han)
No Result
View All Result