SAMPANG, Zonapos.co.id – Tahlilan sudah menjadi bagian yang lekat dengan kebiasaan masyarakat muslim di Indonesia bila ada kerabat yang meninggal dunia. Tahlilan biasanya dilakukan 3, 7, 40, 100 hari selepas kematian seseorang.
Tahlilan sebagai peristiwa dibacakannya ayat Al Quran, kalimat thayyibah, dan doa untuk mayit.
Menurut buku Pengantar Studi Aswaja An-Nahdliyah karangan Muchotob Hamzah, sebetulnya tradisi tahlilan adalah akulturasi atau sinkretisme budaya lokal dengan ajaran agama Islam. Muchotob menjelaskan, hal itu sudah menjadi ibadah ghairu mahdhah yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia.
Tradisi tahlilan juga disebut dalam buku tersebut sebagai implementasi dari kaidah fiqh al’adah muhakkamah ma lam yukhalif al syar’a yang artinya budaya lokal dapat diadopsi menjadi bagian hukum syariah sepanjang budaya dan adat istiadat tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam.
Tahlilan biasanya diisi dengan bacaan zikir, doa, dan tahlil untuk orang yang sudah meninggal dunia dan dibarengi dengan jamuan makanan sebagai sedekah. Berkenaan dengan hal ini, hukum tahlilan dapat dibenarkan secara syara’ juga didukung oleh penjelasan Imam Thawus dalam Kitab al Hawi li al Fatawi li As Syuyuti.
Sementara ribuan masyarakat Sampang hadiri tahlil tiga harinya Almarhumah Hj.Mimin istri mantan Bupati Sampang, Haji Slamet Junaidi di rumah duka, jalan Kramat atau kampung kasenih, kelurahan Karang Dalam, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang dari jam 19.00 wib (habis sholat Isyak).
Pantauan Zonapos setiap hari ramai para pelayat dan masyarakat untuk menghadiri tahlil membacakan do’a, seperti hari ketiga ini Jum’at (31/05/2024) malam Sabtu masyarakat Sampang maupun masyarakat diluar daerah Sampang.
Sementara itu Kyai Fuzan menyatakan bahwa tahlilan merupakan tradisi Islam yang sangat baik untuk dilakukan.
“Tahlilan ini merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum dan juga sebagai bentuk permohonan ampun dan rahmat Allah SWT,” kata Kyai Fauzan.
Ia menjelaskan bahwa tahlilan biasanya dilakukan dengan membacakan doa-doa dan ayat-ayat Al-Quran untuk almarhum. Selain itu, tahlilan juga sering diisi dengan pembacaan sholawat dan dzikir.
“Tahlilan juga dapat menjadi ajang silaturahim bagi keluarga dan tetangga,” tambah Kyai Fauzan.
Ia juga menambahkan bahwa tahlilan merupakan salah satu bentuk bakti kepada orang tua dan keluarga yang telah meninggal dunia.
“Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT dan diampuni segala dosa-dosanya,”ucap Kh. Fauzan.






























