BONDOWOSO, Zonapos.co.id – Dalam acara Seminar Nasional dan Launching Institut Agama Islam Togo Ambarsari, Prof. Akhmad Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D., Koordinator Kopertais Wilayah IV Jawa Timur sekaligus Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, hadir sebagai narasumber utama di Aula Tahfid Wonosari Bondowoso. Sabtu (13/12/2025)
Pada kesempatan tersebut, Prof. Akhmad Muzakki menyampaikan sejumlah gagasan strategis terkait tema seminar, “Membangun Insan Madani yang Unggul Berorientasi Pendidikan Islam Berparadigma Eco-Pesantren.”
Menurutnya, kata kunci dari tema tersebut terletak pada konsep Insan Madani dan Unggul. Dua pertanyaan utama yang menjadi fokus pembahasannya adalah bagaimana membangun Insan Madani yang unggul serta bagaimana relevansinya dengan transformasi STIT Togo Ambarsari menjadi Institut Agama Islam Togo Ambarsari.
Dalam pengantarnya, Prof. Muzakki, yang akrab disapa Prof. Zaki, menjelaskan perbedaan mendasar antara “tahu” dan “pintar”. Ia menegaskan bahwa sekadar “tahu” tidak membutuhkan pendidikan tinggi.
“Kalau hanya ingin tahu, tidak perlu kuliah. Cukup menatap layar ponsel, maka kita akan tahu,” ujarnya.
Ia menjelaskan kata “mengetahui” merupakan proses menangkap informasi tanpa pengolahan lebih lanjut, sementara “pintar” adalah tahap lanjutan ketika informasi tersebut diolah, direfleksikan, dan diinternalisasikan hingga membentuk kesadaran baru yang pada akhirnya teraktualisasi dalam tindakan nyata. Proses menjadi “pintar”, menurutnya, adalah proses yang mendalam (deep process) dan berdampak luas (deep impact) secara holistik dan integratif.
“Integrasi antara ilmu dan tindakan berbasis kesadaran inilah yang akan melahirkan Insan Madani,” tambahnya.
Secara morfologis, kata madani memiliki akar yang sama dengan tamaddun dan Madinah, yang mencerminkan peradaban, serta berlawanan dengan istilah badui yang merujuk pada keterbelakangan. Namun, menjadi manusia berkeadaban saja belum cukup; Insan Madani juga harus unggul.
Keunggulan tersebut, lanjut Prof. Zaki, harus dibangun melalui maziyyah atau keistimewaan, yang dalam istilah lain disebut sebagai distingsi. Untuk memudahkan pemahaman, ia memberikan contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bondowoso.
“Di Bondowoso banyak penjual tape dengan berbagai merek, Tape 77, 82, 31. Apa yang membedakan mereka? Jawaban itulah yang disebut distingsi. Biasanya, tape yang paling mahal adalah yang memiliki distingsi paling diminati masyarakat,” jelasnya.
Prof. Zaki menekankan bahwa langkah lanjutan dari pembangunan Insan Madani adalah mengidentifikasi atribusi keunggulan sejak dini. Institut Agama Islam Togo Ambarsari, menurutnya, perlu menemukan distingsi dalam proses produksi ilmu pengetahuan agar cita-cita menjadi institusi unggul dapat terwujud. Tanpa distingsi, lulusan dan produk akademik yang dihasilkan hanya akan menjadi standar umum yang kurang memiliki daya saing di tengah ketatnya persaingan dunia kerja era industri saat ini.
Selain itu, Prof. Akhmad Muzakki menegaskan pentingnya tata kelola kelembagaan pascatransformasi.
“Semua proses harus tercatat,” tegasnya.
Ia menyoroti pentingnya penguatan peran operator akademik serta peningkatan intensitas kegiatan ilmiah, seperti publikasi jurnal, penulisan opini, dan kolom di media lokal maupun nasional.
Sebagai pesan penutup bagi seluruh civitas akademika Institut Agama Islam Togo Ambarsari, Prof. Zaki menegaskan satu kata kunci, yaitu “Serius.”
“Pengelolaan pendidikan tinggi tidak bisa dilakukan secara sambil lalu, melainkan harus dijalankan dengan fokus, intensitas, dan konsistensi yang tinggi. Saya berharap semoga kita semua bisa mengawal proses transformasi ini dengan baik dan tuntas, tanpa menyisakan masalah dikemudian hari.” tutpnya
Pewarta: Ahmad Ghazi











