BONDOWOSO, Zonapos.co.id – Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PAC GP Ansor) Kecamatan Wonosari menyelenggarakan Diskusi Publik Ansor on Stage yang bertajuk “Ekoteologi Maqāṣidi: Nilai Kesadaran Menjaga Lingkungan Hidup” di Kafe Nirmala, lapangan Desa Wonosari. Minggu (15/2/2026) malam.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara PAC Ansor Wonosari dan Cairo Institute of Islamic Studies (CIIS) sebagai bagian dari penguatan literasi keislaman yang responsif terhadap isu-isu aktual dan kontemporer.
Hadir dalam forum ini perangkat desa setempat, kader Ansor-Banser, perwakilan badan otonom MWCNU Wonosari, kalangan akademisi, mahasiswa, pelajar serta pegiat literasi tersebut berlangsung dalam suasana dialogis dan partisipatif.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Ratib Syaikhona Kholil lalu seremonial pembukaan. Pihak panitia menegaskan bahwa keberlangsungan acara diskusi ini bukan sekadar forum seremonial semata, melainkan sebagai ruang refleksi bersama sekaligus media edukasi publik terkait pentingnya komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Menariknya, acara ini pun digelar di kafe terbuka untuk menumbuhkan kepekaan ekologis para peserta.
Ketua PAC Ansor Wonosari, Muhammad Humayni, dalam sambutannya menegaskan bahwa diskusi ini menjadi titik awal konsolidasi gerakan yang lebih terstruktur dan masif. Ia menyampaikan Ansor tidak boleh berhenti pada tataran wacana, tetapi harus mampu menerjemahkan nilai Maqāṣid dalam program nyata yang berdampak sosial.
“Kita ingin membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari pengabdian keagamaan,” ujarnya.

Memasuki sesi inti, narasumber utama, Dr. Muslihun menjelaskan, Ekoteologi Maqāṣidi merupakan pendekatan yang mengintegrasikan prinsip Maqāṣid al-Syarī‘ah dengan kesadaran ekologis.
“Perspektif ini memandang perlindungan lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan syariat dalam menjaga keberlangsungan hidup, kemaslahatan umat manusia, serta keseimbangan ciptaan. Dengan demikian, isu lingkungan ditempatkan sebagai tanggung jawab moral dan spiritual yang inheren dalam ajaran Islam, bukan sekadar persoalan teknis atau administratif.” jelasnya
Muslihun juga menegaskan, kajian Ekoteologi-Maqasidi tidak cukup berhenti pada ruang diskusi. Nilai-nilai kesadaran lingkungan yang selaras dengan prinsip ajaran Islam perlu direalisasikan dalam kehidupan masyarakat. Pentingnya peran pemerintah sebagai pemangku kebijakan publik dalam menghadirkan langkah konkret penjagaan lingkungan.
“Saya berharap diskusi ini tidak berhenti di warung kopi dan menguap begitu saja. Perlu ada rekomendasi bersama yang ditujukan kepada Pemerintah Daerah, sekaligus komitmen untuk mengawal implementasinya,” tegas pria yang diketahui merupakan tenaga pendidik di Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto.

Sesi berikutnya menghadirkan pembanding, Mathlubur Rhisky, S.Pd.I., M.Pd.I., yang akrab disapa Gus Rhisky. Ia memaparkan perspektif aktualisasi penjagaan lingkungan dari masyarakat adat di sejumlah wilayah pedalaman Indonesia. Menurutnya, praktik pelestarian lingkungan yang konsisten justru banyak dilakukan oleh komunitas yang memiliki keterbatasan akses teknologi, namun kuat dalam tradisi nilai kearifan lokal.
“Kesadaran personal masyarakat terhadap pentingnya perlindungan lingkungan masih perlu ditingkatkan. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, kemudian dari keluarga, hingga masyarakat yang lebih luas, terutama dalam pengelolaan sampah,” ujarnya sembari mengajak peserta menjadi aktor penggerak kelestarian lingkungan.
Dalam sesi diskusi panel, peserta menyoroti pentingnya gerakan berbasis nilai yang terinstitusionalisasi. Mereka menilai keberlanjutan gerakan sangat bergantung pada konsistensi program, kepemimpinan kolektif, serta penguatan kapasitas organisasi. Forum menekankan perubahan sosial tidak cukup bertumpu pada figure tertentu, melainkan memerlukan sistem dan mekanisme yang berkesinambungan.

Forum dengan nuansa santai namun sarat makna ini menjadi ruang konsolidasi gagasan lintas elemen. Interaksi yang dinamis antara narasumber dan peserta menunjukkan antusiasme generasi muda dalam mendiskusikan isu lingkungan dari perspektif keagamaan.
Beberapa peserta dari perwakilan Ansor dan badan otonom MWCNU Wonosari menyatakan komitmennya untuk menginisiasi forum-forum serupa disertai langkah nyata kepedulian lingkungan di tingkat komunitas masing-masing.
Sementara itu, Fathorrozi selaku Ketua PAW PC GP Ansor Bondowoso, di akhir acara mengajak seluruh peserta untuk merumuskan kembali sejumlah rekomendasi lanjutan sebagai pijakan gerakan ke depan yang nantinya akan menjadi bahan audiensi dengan pihak Pemerintah Daerah.
“Komitmen PC Ansor Kabupaten Bondowoso mengawal kebijakan Pemerintah Daerah agar lebih responsif terhadap isu-isu ekologi, khususnya yang berdampak langsung pada masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa pembangunan berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan. ” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa rekomendasi yang disusun tidak hanya bersifat seremonial, melainkan akan ditindaklanjuti melalui langkah-langkah konkret dan advokasi berkelanjutan.

“Kami berharap sinergi antara organisasi kepemudaan, masyarakat, dan pemerintah daerah dapat terus diperkuat, sehingga upaya menjaga lingkungan hidup menjadi gerakan bersama demi masa depan Bondowoso yang lebih berkelanjutan. Cintailah alam, alam mencintai kita” tutupnya.
Melalui diskusi publik Ansor on Stage ini, PAC Ansor Wonosari menegaskan perannya dalam mengarusutamakan kesadaran ekologis sebagai bagian integral dari gerakan kepemudaan Islam. Forum ini diharapkan menjadi embrio lahirnya inisiatif strategis yang memadukan refleksi teologis, penguatan kapasitas organisasi, serta aksi sosial yang berkelanjutan.
Pewarta: Nizam NH











