TANGGAMUS, Zonapos.co.id — Taman Ir. Soekarno, sebuah ruang publik yang menyandang nama besar sang Proklamator di Kecamatan Kota Agung, baru saja menjadi saksi bisu dari sebuah ironi yang dipoles rapi. Di bawah panji “Kepedulian Inflasi”, Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag) Kabupaten Tanggamus sukses menggelar Operasi Pasar Murah Bersubsidi, Rabu (11/02/2026). Namun, di balik gempita distribusi 1.500 paket sembako, tersisa “warisan” yang mencoreng wajah kota: hamparan sampah plastik yang menjajah setiap sudut taman.
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala Dinas Koperindag Tanggamus, Retno Noviana Damayanti, beserta jajaran pimpinan daerah seperti Camat Kota Agung Adi Putra dan Kapolsek AKP Feriyanto ini, sejatinya adalah misi mulia. Pemerintah hadir memberikan oase bagi masyarakat yang tercekik inflasi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H, dengan menggelontorkan subsidi sebesar Rp30.000 per paket. Rakyat cukup membayar Rp60.000 untuk mendapatkan minyak goreng, gula pasir, dan tepung terigu.
Namun, indahnya angka-angka subsidi tersebut seketika luntur saat melihat realitas lapangan pasca-cedera Tampak bekas kemasan plastik bening dan wadah makanan hitam berserakan di atas lantai keramik dan area pedestrian. Lebih mengkhawatirkan lagi, ditemukan tumpahan gula yang berserakan di atas lantai keramik yang licin. Ceceran kristal manis yang terabaikan ini bukan sekadar kotoran, melainkan ancaman nyata yang bisa menyebabkan warga atau anak-anak yang melintas terpeleset dan cedera.
Kekecewaan ini pun terucap langsung dari bibir masyarakat yang menyaksikan kontrasnya situasi tersebut.
“Bagus sih pemerintah menggelar acara bazar, masyarakat merasa senang, tapi jangan selesai acara lalu sampahnya dibiarkan berserakan, dipandang mata tidak indah,” tutur salah seorang warga pengunjung taman kota dengan nada ketus namun tulus. Rabu (11/02/2026)
Ucapan ini menjadi tamparan keras bagi pihak penyelenggara bahwa masyarakat sejatinya mendambakan bantuan ekonomi tanpa harus mengorbankan estetika lingkungan mereka.
Di sini letak paradoksnya. Di satu sisi, Koperindag tampil sebagai pahlawan ekonomi yang menekan inflasi, namun di sisi lain, mereka gagal memberikan edukasi moral.
Instansi pemerintah seharusnya menjadi garda terdepan dalam memberi contoh bahwa fasilitas publik adalah milik kolektif rakyat Tanggamus yang wajib dijaga kehormatannya. Membiarkan taman berubah menjadi tempat pembuangan sampah darurat pasca-seremoni adalah bentuk “subsidi kekumuhan” yang tidak seharusnya diterima oleh warga.
Keberhasilan sebuah acara tidak hanya diukur dari habisnya kupon belanja, tetapi juga dari bagaimana marwah lokasi acara dikembalikan seperti semula. Sangat disayangkan, gairah menolong ekonomi rakyat tidak dibarengi dengan gairah menjaga kebersihan lingkungan. Taman Ir. Soekarno hari ini bukan lagi tempat untuk menghirup udara segar, melainkan galeri terbuka bagi ketidaksiapan mentalitas publik dan lemahnya koordinasi manajemen limbah penyelenggara.
Rencananya, rombongan akan melanjutkan “pesta” serupa di Kecamatan Gisting esok hari. Publik kini hanya bisa berharap agar di lokasi berikutnya, pemerintah tidak hanya sibuk menghitung paket sembako yang tersalurkan, tetapi juga mampu memastikan bahwa jejak yang tertinggal bukanlah tumpukan plastik yang membusuk, melainkan keteladanan yang bersih dan beradab.
Pewarta : Hanafi











