BONDOWOSO, Zonapos.co.id – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya sekadar momen refleksi, tetapi juga panggilan untuk mengukuhkan nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi tantangan kontemporer seperti primordialisme dalam pemilihan bupati. Dalam konteks ini, perdebatan mengenai keunggulan antara calon putera daerah dan bukan putera daerah menjadi semakin relevan.
Pancasila, sebagai dasar negara, menekankan kebebasan dan hak-hak warga negara yang diatur dalam konstitusi. Namun, dalam hiruk-pikuk pilkada, sering kali calon yang berasal dari putera daerah mendapatkan keunggulan karena keterikatan emosional dan pemahaman mendalam terhadap budaya lokal. Meskipun demikian, pendekatan ini dapat mengarah pada diskriminasi terhadap calon dari luar daerah yang memiliki kapasitas dan visi yang sama kuatnya.
Sentimen primordial ini sering kali mengaburkan penilaian objektif masyarakat terhadap calon pemimpin. Oleh karena itu, Pancasila harus berfungsi sebagai pilar pencerahan yang membimbing masyarakat untuk memilih berdasarkan kemampuan dan integritas, bukan semata-mata latar belakang daerah.
Di tengah tantangan ini, penting bagi pemilih untuk menyadari bahwa pemilihan bupati seharusnya mencerminkan nilai persatuan dan keadilan. Dengan memprioritaskan kualitas dan kompetensi calon di atas identitas asal, kita dapat membangun dan mewujudkan demokrasi yang lebih sehat dan berkeadilan.
Oleh karena itu, semangat Pancasila harus menjadi panduan di tengah gelapnya primordialisme, memastikan bahwa setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Dengan demikian, menjadi keharusan bahwa bingkai penyelenggaraan negara harus senantiasa memegang teguh semangat persatuan NKRI, bukan semangat regionalisme.
Penulis: Ach. Abrori, SH, MH.





































