Bengkayang,zonapos.co.id,– Hasil rata-rata nasional Tes Kemampuan Akademik (TKA) mengungkap fakta bahwa kemampuan literasi dan numerasi peserta didik Indonesia masih jauh dari harapan. Sejak 2022 hingga 2025, capaian tersebut dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan.
Rata-rata nilai matematika nasional tercatat masih berada di bawah angka 5, yakni sekitar 4,8. Sementara capaian Bahasa Inggris bahkan lebih rendah. Mata pelajaran yang relatif lebih baik hanya Bahasa Indonesia, meski tetap belum mencapai standar ideal.
“Kalau disimpulkan, kemampuan akademik anak-anak kita di level SMA dan SMK masih jauh dari harapan,” ungkap narasumber dalam kegiatan pendidikan di Bengkayang.
Ia menjelaskan, desain soal TKA ke depan dibuat menyerupai model soal Programme for International Student Assessment (PISA), namun dengan tingkat kesulitan lebih rendah. Perubahan ini dilakukan karena selama ini pola pembelajaran di sekolah dinilai terlalu deskriptif dan berbasis hafalan, sehingga kurang melatih kemampuan analitis dan berpikir kritis siswa.
“Selama ini pendekatannya lebih banyak hafalan. Padahal yang kita butuhkan adalah kemampuan analisis dan berpikir kritis,” ujarnya.
Pada April mendatang, TKA juga akan digelar untuk jenjang SMP dan SD. Pemerintah berharap hasilnya lebih baik, namun menekankan bahwa perbaikan tidak cukup hanya dengan doa, melainkan harus dibarengi upaya nyata dari sekolah dan orang tua.
Orang tua diminta aktif mendampingi anak memanfaatkan gawai untuk mengakses simulasi soal TKA yang tersedia di laman resmi Kementerian Pendidikan. Penggunaan handphone diharapkan lebih diarahkan untuk belajar daripada sekadar bermain gim daring.
“Tolong dampingi anak-anak kita. Gunakan handphone untuk latihan simulasi TKA, bukan hanya untuk bermain,” tegasnya.
Pelaksanaan TKA tahun ini bersifat pilihan, tidak wajib, dan tidak menentukan kelulusan. Namun kebijakan ini diambil sebagai respons atas kritik bahwa Indonesia belum memiliki standar kemampuan akademik nasional yang terukur. TKA diterapkan untuk kelas 6, 9, dan 12 sebagai alat ukur kemampuan individual siswa.
Selain mendorong perubahan pola belajar, pemerintah juga menaruh perhatian pada peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Tahun ini, lebih dari 16 ribu sekolah akan direvitalisasi, dan jumlah tersebut diarahkan untuk dilipatgandakan hingga mencapai sekitar 60 ribu sekolah.
Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga terus diperluas. Pemerintah menargetkan seluruh satuan pendidikan, termasuk ibu hamil dan menyusui, akan menerima manfaat program tersebut paling lambat akhir tahun ini, dengan total penerima diproyeksikan mencapai lebih dari 82 juta orang.
Program ini dinilai penting mengingat hasil survei sebelumnya menunjukkan sekitar 60 persen anak Indonesia berangkat ke sekolah dalam kondisi belum sarapan. Kondisi tersebut berpengaruh besar terhadap konsentrasi dan daya serap pembelajaran di kelas.
“Bagaimana anak bisa fokus belajar kalau datang ke sekolah dalam keadaan lapar? Ini persoalan mendasar yang harus kita selesaikan,” pungkasnya.
Pewarta : Yohanes Aya
Editor : Rinto Andreas











