BONDOWOSO, Zonapos.co.id – KH. Asy’ari merupakan tokoh ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang sangat masyhur dikalangan masyarakat Bondowoso, terlebih warga masyarakat Wonosari. Bagi warga nahdliyin, ketika berbicara Nahdlatul Ulama (NU) yang ada di Wonosari maka nama KH. Asy’ari selalu terucap oleh mayoritas warga nahdliyin, karena beliaulah yang menerima Nahdlatul Ulama (NU) pertama di Kabupaten Bondowoso tepatnya di masjid al-Azhar Wonosari pada tahun 1927 M.
KH. Asy’ari tercatat sebagai bagian dari periode al-awwalun dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama di Kabupaten Bondowoso, menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah selama tiga periode berturut-turut, yaitu dari tahun 1935 hingga 1947 M.
KH. Asy’ari atau Kiyai Hasyim (nama daging), adalah salah satu putra dari lima bersaudara atas pernikahan antara KH. Muhammad Sholeh dengan Nyai Midasi. Ayah dari KH. Asy’ari sering disebut Pak Salim (nama kuniyah), masyhur dipanggil KH. Muhmammad Sholeh.
KH. Asy’ari lahir pada tahun 1885 di Desa Sumberkalong Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso Provinsi Jawa Timur. Pada masa itu, kondisi Desa Sumberkalong dipenuhi dengan tumbuhan alang-alang dan pepohonan tinggi sehingga masih terjaga kelestarian alamnya, bisa juga dikatakan sebagai wilayah hutan.
Kemudian keempat saudara KH. Asy’ari semuanya dilahirkan di Madura masjid Lajuh Kepanjin Sumenep diantaranya, Muhammad Salim, Nyai Luk, Nyai Tahwi, Nyai Sofiyah.
Riwayat pendidikan KH. Asy’ari, beliau menimba ilmu Agama langsung ke ayahandanya sendiri, KH. Muhmammad Sholeh. Setelah itu mengaji kepada KH. Abdul Lathief Kauman Bondowoso dan mengaji kepada KH. Kholil di Bangkalan Madura.
KH. Muhmammad Sholeh memondokkan KH. Asy’ari di Bangkalan Madura tidak hanya sendirian dari Bondowoso, melainkan bersama tiga temannya. Salah satu temannya adalah Ji Tina Desa Jurang Sapi Tapen atau abahnya KH. Ibrohim Desa Sumberkalong.
Setelah KH. Asy’ari menimba ilmu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, kira-kira pada tahun 1910 beliau kembali ke kampung halaman untuk mengamalkan ilmunya kepada masyarakat Wonosari dan sekitarnya.
Kembalinya beliau ke Wonosari, keadaan mental masyarakat masih rusak dan selalu menimbulkan keresahan dan kerusuhan yang disebabkan oleh tingkah laku para dursila (bromocorah). Judi, aduan sapi, merampok dan membunuh serta ketangkasan main pecut rotan (ojhung) menjadi tradisi masyarakat yang sulit untuk dirubah.
Namun, KH. Asy’ari untuk bisa merubah perilaku masyarakat tidaklah mudah. KH. Asy’ari harus menggunakan metode “Saya masuk di pintu mereka, lalu mereka keluar dari pintu saya”. Artinya beliau harus berbaur masuk ke dalam aktifitas masyarakat sehari-hari agar lebih dekat dengan masyarakat.
Ojhung merupakan tradisi, dimana para pemain, saling berhadapan dan saling cambuk dengan rotan. Permainan Ojhung dimaksudkan sebagai ajang perlombaan, untuk menguji nyali, kekuatan fisik, taktik dan ketangkasan para pemain. Tradisi ini sering dijadikan ajang taruhan ataupun judi oleh para peserta yang melihatnya, disini perlahan KH. Asy’ari merubah aturan permainan ojhung.
Kadang beliau terpaksa menebak dan menentukan sapi-sapi mana yang akan menjadi pemenang dalam gelanggang aduan sapi. Istimewanya, ternyata tebakan KH. Asy’ari benar, sapi yang ditebaknya selalu menang. Sehingga membuat para dursila menaruh perhatian kepada beliau. Banyak orang yang meminta doa dan mantra kepada KH. Asy’ari agar ayam dan taruhan judinya selalu menang.
Sejak saat itu, mulailah beliau dikenal oleh masyarakat sebagai Bindara (Gus) dengan sebutan Bindara Hasyim. Kesempatan itu digunakan oleh beliau untuk memasukkan ajaran Islam. Orang yang meminta doa dan Hizb, khususnya para dursila diwajibkan terlebih dahulu mengambil wudhu, membaca basmalah dan dua kalimat syahadat.
Mereka yang belum bisa mengambil wudhu, membaca basmalah dan syahadat, dibimbing sampai bisa. Setelah para dursila melakukan kewajibannya, barulah maksud mereka dituruti. Jadi, metode dakwah KH. Asy’ari tidak sama sekali menggunakan cara kekerasan, melainkan dengan kelembutan dan penuh pengayoman serta kasih sayang.
Proses Islamisasi yang diterapkan KH. Asya’ari di Bondowoso, Wonosari khususnya berjalan dengan aman dan damai, tanpa ada pergolakan serta kegoncangan psikologis dan sosial. Sebab, beliau KH. Asy’ari lebih menggunakan pendekatan kultural, yang sarat dengan simbol-simbol kebudayaan lokal.
Seiring berjalannya waktu, KH. Asy’ari dalam menyebarkan Agama Islam di wilayah Kecamatan Wonosari dan sekitarnya menuai hasil. Keberhasilan ini diikuti pula dengan jerih payah beliau untuk merintis Masjid al-Azhar Wonosari dan mendirikan Pondok Pesantren Darut Thalabah, serta menjadi Ketua Tanfidziyah pertama Jam’iyah Nahdlatul Ulama di wilayah Kabupaten Bondowoso.
Nama Pondok Pesantren Darut Thalabah awalnya adalah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Wonosari. Nama ini kemudian diubah menjadi Pondok Pesantren Darut Thalabah pada masa kepemimpinan KH. Ghozali Asy’ari.
Usaha dan doa dari sesama kyai tidak bisa dipungkiri perannya, salah satunya adalah KHR. Syamsul Arifin merupakan ayah dari KHR. As’ad Syamsul Arifin (pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo), dikala itu KHR. Syamsul Arifin menjadi dewan penasehat atau pembina di Pondok Pesantren Darut Thalabah Wonosari Bondowoso sekitar tahun 1916 M.
Berdirinya Pondok Pesantren Darut Thalabah, merupakan masa-masa yang begitu genting dimana kolonialisasi Belanda masih melanda wilayah Bondowoso dan sekitarnya, kemudian diikuti pula penjajahan Jepang. Kondisi ini membuat Pondok Pesantren Darut Thalabah selain sebagai pusat pendalaman ilmu agama, juga difungsikan sebagai basis pertahanan dan perjuangan rakyat melawan penjajah.
Selama masa perjuangan, masyarakat Wonosari dan sekitarnya termasuk didalamnya santri Pondok Pesantren Darut Thalabah, yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat khususnya preman, penjahat dan bromocorah ikut terlibat dalam perjuangan melawan penjajah.
KH. Asy’ari wafat pada hari ahad tanggal 22 shafar tahun 1367 H/ 04 Januari 1948 M, diusia yang ke 63 tahun, dimana pada saat itu, Negara Indonesia baru merayakan kemerdekaannya yang ke tiga. KH. Asy’ari dimakamkan di Desa Kelapa Sawit Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso atas dasar permintaan dan ikatan janji terhadap Bhujuk Mireng yang memiliki tanah kuburan.
Semoga kita mampu mengambil hikmah dari perjuangan beliau, dan apa yang selama ini beliau kerjakan, mampu untuk kita lanjutkan sebagai bentuk manifestasi estafet perjuangan beliau di Kabupaten Bondowoso. Aamiin ya robbal ‘alamin.
Penulis: Ali Wafi, Sumber (Buku Haul Akbar KH. Asy’ari ke 64, KH. Moh. Hasyim Sonhaji, M.H.I. dan Lora. Khoirul Umam, BSA)



































